::HELLOMAHESI- BEAUTY BLOGGER::

INDONESIA BEAUTY, FOOD, TRAVEL BLOGGER

Sabtu, 18 April 2020

,
mencoba IKIGAI
Setiap orang mempunyai makna bahagianya tanpa syarat dan ketentuan. Ada orang yang bahagia saat membeli barang bemerek mahal, memiliki jutaan followers media sosial, makan di restoran mewah, serta jalan jalan ke eropa. Ada juga yang bahagia karena bisa berkumpul bersama keluarga, teman, sahabat juga teman hidup.


Bahkan Dendam kesumat bisa menjadi definisi bahagia bagi sebagian orang lhoo. Sedikit banyak, hal ini dipengaruhi oleh lingkungan, juga konsumsi media dalam kesehariannya. Tidak ada batasan bagi seseorang untuk memilih makna bahagia. tanpa ada syarat ketentuan. Apalagi, definisi bahagia ini menjadi motivasi di tiap bangun pagi.


Permasalahan akan mencuat, apabila seseorang memaksakan makna bahagianya, tanpa peduli apapun. Dan yaa.. Maraknya gelagat modern malah sering membuat saya jengah, meskipun saya anak jombang sini saja hahaha😂. Ngobrolin kebiasaan zaman sekarang saya berniat sharing suatu cerita. Happy Reading teman teman...


Jadi, tepat sebelum badai corona melanda, saya menyelesaikan kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota apel. Sembari kuliah, saya belajar merias wajah a.k.a tukang rias.  Sebetulnya, saya mulai sadar dengan keberadaan kuas rias waktu usia masih remaja. Kegiatan sekolah seperti fashion show, tari kombinasi membuat saya sedikit terbekali, walaupun gambar alis masih tebal sebelah hahaha😂



Benar saja, waktu pertama kali saya mendeklarasikan hasil riasan. Teman teman berkomentar positif dan kaget. Ya tidak heran, asumsi saya mungkin karena perawakan yang besar serta ikut kegiatan pecinta alam(pramuka). Namun beberapa ada yang menggoda “woo ancen tukang alis”. Semisal saya kurang paham materi kuliah. Herannya mengapa dihubungkan dengan kegiatan ngalis mengalis

“ makanya jangan ngalis terooos”. Lhaaaah?! Budaya julid batinku.

Awal membuka jasa rias merias, saya tidak berfikir untuk komersil, niat pertama untuk mengasah kemampuan yang sudah sudah juga berbagi detail produk yang saya gunakan, sembari terus belajar.  Dan satu lagi, saya bahagia melaksanakannya, Sampai teman yang saya rias berujar:

 “Rahna, buka jasa make up wisuda saja loo”

“Waaah, begitu kah?” hati masih ragu ragu”

Awalnya, tidak sampai ratusan ribu saya mau menerima permintaan rias. Sadar diri produk yang digunakan masih sangat pemula. Bahkan, saya juga berujar “monggo mbak, mbak kasih berapa terserah mbak, tapi nanti testimoni yaa”. Begitulah kira kira suka duka tukang rias pemula. Kepercayaan client sangat penting. Adalagi yang paling penting. Rasa senang dan bahagia saat meliat mereka suka, puas dengan hasil riasan.


Suatu Kali, saya memutuskan untuk mengikuti workshop tata rias. Kala itu ada 2 EO yang mengadakan workshop. Sebelum transaksi saya memilah keabsahan EOnya, testimoni, tak luput juga jumlah followers. EO pertama memiliki 350 followers EO kedua 1500 followers lebih. EO kedua menjadi pilihan saya melihat managemen konten instagram dan fasilitas yang lebih baik (menurut saya).


Mulanya saya yakin bahwa workshop ini mampu menambah ilmu dan teknik merias wajah. Tetapi saya merasa janggal saat ada peserta lain bertanya step step merias. Benar saja, pemateri rias hanya mempraktekkan dan belum menjelaskan dengan detail. Bahkan saya juga melihat riasan pemateri yang ada lipatan garis senyum. “Allah Kariim” tak apalah untuk pengalaman. (garis senyum menjadi momok bagi saya, karena garis senyum ini bisa muncul karena pemilihan produk yang kurang tepat sehingga ketahanan make up hanya 1-2 jam atau garis senyumnya memang dalam, well.. garis senyum adalah tantangan tersendiri!)


Dari cerita ini, mari sama sama mengambil pelajaran.  Pertama, Follower lebih banyak belum bisa mengukur kualitas sesuatu bahkan seseorang. Berapa banyak manusia yang sudah tertipu jasa dan online shop berfollower jutaan. Sekarang ini, Ada banyak jasa jual beli follower. Teman teman pasti paham maksud saya . Sejak saat itu, saya lebih hati hati memilih Event dan Workshop.




Kedua, Mari bersama mengabaikan apa kata orang, lanjutkan perjuangan dan fokus berkarya.  Tidak banyak orang yang mampu melihat dan menghargai sebuah proses. Seringkali, saya menganggap ujaran mereka sebagai motivasi dan bahan bakar untuk membuat karya lagi dan lagi. Tidak semua kritikan orang lain harus kita terima, kita bisa memfilter mana yang baik untuk kita.


Teruntuk penyampai kritik saran, silahkan mengutarakan pendapat, namun dengan cara yang baik yaa.. sesuatu yang awalnya untuk berbenah bisa jadi salah paham, Jika disampaikan dengan marah marah. Peace! Salam damai.

Lalu apa bagaimana hidup apa adanya membuat bahagia? Apa kita hanya boleh menerima kehidupan yang kita punya? Iya iya aja gitu? Berarti kita terima saja ya dengan apa yang ada?

Waaah.. cara pandang seperti ini yang seyogyanya kita rubah. Menurut saya, Menjalani hidup apa adanya berarti Menyadari apa apa yang kita punya. Potensi dan kemampuan diri, batasan diri, harta benda, emosi, semuanyaaa. Sadar dulu apa yang kita punya lalu memaksimalkannya dengan baik.  Ditengah maraknya pencitraan palsu di era sosial media, seyogyanya kita menjalani hari dengan percaya diri.






Yakin akan kemampuan diri sendiri. Yakin bahwa karya kita mampu bermanfaat dan menebar kebaikan. Menunjukkan diri kita tanpa pencitraan, tipu tipu, ekspresikan diri tanpa kepura puraan #tanpasyaratketentuan dengan dukungan @IM3Ooredoo. Kreatifitas akan lebih mantap dengan dukungan koneksi internet terbaik dari IM3  Ooredoo, karena IM3 Ooredoo menghadirkan lini produk komunikasi paling simple dan mudah bebas syarat ketentuan seperti Freedom Internet

Terima kasih IM3 Ooredoo sudah menemani hari hariku sebagai konten creator dan perias ya! Kindly visit : IM3 Ooredoo terbaik!untuk info menarik lainnya! Sekian yang bisa saya sampaikan, semoga tulisan ini bermanfaat and See youu for other post.. Luvv...!😘😘😘😘😘