::HELLOMAHESI- BEAUTY BLOGGER::

INDONESIA BEAUTY, FOOD, TRAVEL BLOGGER

Monday, September 16, 2019

Nasution dan pesta darah selewat akhir malam bulan september


Salah satu hal yang paling saya gemari adalah mendengarkan cerita dari para pendahulu, bapak, ibuk, tak terkecuali embah. Apalagi kisah yang berkaitan tentang: pertemuan pertama mereka, masa kecil, hantu hantuan, mitos tanah jawa, primbon, wayang juga perjuangan melawan penjajah. Entah kenapa, saya kagum dengan keajaiban yang ada. Beberapa fragmen keasyikan dan kenangan yang mereka ceritakan tidak sempat saya rasakan, semisal ibuk membuat “gudir-gudiran” (agar agar bening warna pink) dari kulit buah jambu bali dan sabun cuci, katanya bisa betulan jadi agar agar. Sayang, produk sabun cucinya saja sudah tak rupa. 

Atau kisah embah putri (saya biasa memanggil beliau emak) yang pernah hidup di masa transisi penjajah belanda dan jepang. Menurut cerita emak, dulu masyarakat sering membuat persembunyian dari galian tanah, penutupnya berasal dari bambu berbalur daun rambat. “mak nate ndelik mriku?”(mak pernah sembunyi disitu) tanyaku
Beliau tergelak “yo kabeh tau, Cuma slamet teko bom, kecipratan ae, iki bekase” (Ya semua pernah sembunyi, bedanya—mak—selamat dari ledakan bom, hanya terciprat sedikit, ini bekasnya) sembari menunjukkan lekukan daging di kaki “cuil” rupanya. 
Ratu Helmina, Doc: Wikipedia
Biyen nduk kene enek ratu, jenenge ratu helmina yo wong londo” (Dulu, disini—daerah perak jombang—ada seorang ratu, namanya ratu helmina orang belanda). Saya mengumpulkan beberapa informasi terkait ratu helmina, beliau adalah pewaris satu satunya raja belanja, bisa disimpulkan emak hidup di masa beliau, konon katanya sang ratu juga jatuh hati pada Raja Indonesia lhoo. Emak juga pernah menjadi buruh masak orang cina, tak heran ketika beliau mendirikan warung kopi, tersedia banyak kudapan lain, selaksa: ketan sambel, ketan bubuk, gorengan. Tak abai warung emakpun selalu ramai.
“lah sampean bagian opo buk?” (lah ibuk membantu emak bagian apa?) tolehku pada ibuk
“aku? Yo sembarang kalir, mesusi ketan, meresi santen, godok banyu uakeeh” (aku? Ya semuanya macem macem, mencuci beras ketan, memeras santan, merebus air, ya banyak)
Tak kalah menarik, cerita bapak waktu perang di timor-timor, oh iya! Bapak merupakan seorang purnawirawan TNI AD yang bertugas di masa presiden Soeharto. Kata bapak, Tentara dulu dan zaman now sungguh berbeda. Dulu, tentara memiliki kekuatan lebih dan menjadi stake holder pemerintahan. Hal ini tak lepas dari jasa pahlawan Nasional kita Bapak Abdul Haris Nasution yang mencetuskan dwifungsi ABRI. Dwifungsi adalah gagasan yang diterapkan oleh Pemerintahan Orde Baru yang menyebutkan bahwa TNI memiliki dua tugas, yaitu pertama menjaga keamanan dan ketertiban negara dan kedua memegang kekuasaan dan mengatur negara. Dwifungsi sekaligus digunakan untuk membenarkan militer dalam meningkatkan pengaruhnya di pemerintahan Indonesia, termasuk kursi di parlemen hanya untuk militer, dan berada di posisi teratas dalam pelayanan publik nasional secara permanen.   Bapak mendapat tugas untuk mendamaikan kerusuhan di daerah timor timor—sisa sisa ricuh pisah negara— 

Abdul Haris Nasution, Doc: wikipedia
“pak nek perang aduse piye” (pak kalo perang mandinya gimana?)
“perang kok adus, yo ditembak musuh e, tentara perang ero banyu langsung njegur sak klambi klambine” (perang kok mandi, ya ditembak musuh, tentara kalo lihat air pas perang langsung nyebur sebaju bajunya) Sampai sekarang jika saya QTime dengan mereka saya selalu mengharap kisah.

Bisa dibilang pengalaman bapak adalah sekelumit bagian dari perjuangan memerdekakan dan mengamankan Indonesia, 54 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 1 oktober 1965, seorang pemuda tengah terluka, pergelangan kakinya patah, pakaian yang dikenakan juga masih bersimpah darah, Kehilangan dua kekasih  di malam yang sama. Beliau adalah Abdul haris Nasution, seorang jendral besar TNI yang lahir pada tanggal 3 desember 1918, Salah satu anggota militer yang menjadi incaran kebengisan Gerakan 30 September PKI/ G30SPKI.
Tanggal 30 september 1965, PKI berencana menculik 7 perwira TNI yang diduga anti komunis, salah satunya adalah pak Nas, kala itu beliau sedang beristirahat di kediamannya, letnan Doel Arif pemimpin G30SPKI mendatangi kediaman pak nas dengan 4 truk dan 2 mobil militer. Pos penjaga kediaman pak nas juga tidak curiga melihat mobil tersebut karena masih milik tentara. Letnan Doel arif berhasil menguasai pos penjaga dan 15 tentara memasuki kediaman pak nas.

Rekam kejadian G30SPKI berbentuk Diorama, Doc: grid.id
Istri pak nas terjaga setelah mendengar pintu dibuka paksa, sembari memeriksa sekitar, beliau melihat pasukan cakrabirawa—pasukan penjaga presiden, sekarang paspampers—mengusung pistol dan siap menembak. Nyonya nasution panik, berteriak memberi tahu pak Nas, belum sempat memeriksa, tembakan demi tembakan sudah mengarah ke kamar tidur mereka, menghancurkan pintu bawah, membangunkan seisi rumah. Pak Nas berhasil menyelamatkan diri lewat pintu samping, berlari ke halaman belakang lalu memanjat pagar untuk berlindung di kedutaan irak, alhasil pergelangan kaki beliau patah.
Sementara di lain tempat, seorang anak kecil tidak berdosa menjadi sasaran peluru pasukan cakrabirawa. Ade Irma Suryani, putri bungsu pak nas yang masih berumur 5 tahun mendapat 3 peluru bersarang di punggunnya. Irma ditembak dalam gendongan adik pak nas. Kejadian ini dapat dikenang serta dipelajari jejaknya di Museum Sasmitaloka, ada reka kejadian berbentuk patung diorama termasuk diorama pahlawan kecil kita Ade Irma Suryani. Lahum Al-Fatihah...  

  1. Beberapa hal yang membuat saya tetap bergeming dan memilih beliau sebagai pahlawan idola adalah, sikap kepemimpinan dari Pak Anas, meski menjadi panglima tertinggi TNI AD pada masa orde baru, beliau tidak semena mena bahkan turut bahu rekso berjuang demi Indonesia. Pak anas bahkan mengabadikan pengalam perang gerilya dalm sebuah buku berjudul "pokok pokok gerilya"
  2. Kejadian G30SPKI berdekatan dengan tanggal kelahiran pahlawan saya (bapak) tulisan ini juga saya persembahkan untuk bapak. seseorang yang terlahir selepas kejadian bersejarah. 1 oktober pak anas terluka, patah pergelangan kakinya, 2 oktober bapak lahir di dunia. teruntuk semua pahlawan kalian, lelaki terbaik kalian lahum Alfatihah :

mungkin sampai sini, kisah pak nas pun juga kisah pak rukun. semoga bisa berlanjut di tilisan rahna yang lain.. terima kasih sudah berkunjung dan Salam Bahagia

     -Rahna Mahesi Retnani-

2 comments:

  1. kereen ternyata umi abinya juga dulu punya rekam jejak sejarah juga ya..
    dan btw PKI memang pernah memiliki sejarah kelamnya di Indonesia, dan Pak Nas adalah pejuang Indonesia yang tegas dan berani.
    keren ..

    ReplyDelete
  2. suka banget dengerin mereka cerita sejarah... makasi sudah berkunjung..

    ReplyDelete